“Puasa Membangun Ketakwaan dan Karakter”
Kepala Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh, Tgk Alizar Usman SAg MHum, menegaskan bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar kewajiban menahan lapar dan dahaga, melainkan ibadah yang sarat makna spiritual, sosial, dan pembentukan karakter.
Menurutnya, secara spiritual puasa berfungsi meningkatkan ketakwaan dan kesadaran diri seorang muslim kepada Allah SWT.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
“Puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perbuatan yang merugikan, seperti berbicara kasar, ghibah, dan perbuatan maksiat lainnya. Hal ini membantu dalam pembentukan karakter yang lebih baik,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Ia menambahkan, dari sisi sosial, puasa Ramadhan mengajarkan kepedulian dan empati.
Dengan merasakan lapar dan haus, seorang muslim diharapkan mampu memahami kondisi masyarakat kurang beruntung sehingga tumbuh solidaritas dan semangat berbagi.
“Maka tidak heran jika puasa memiliki nilai yang sangat istimewa di sisi Allah SWT, bahkan puasa akan mendapatkan balasan langsung dari-Nya, tidak seperti ibadah-ibadah lainnya,” ungkap Tgk Alizar.
Ia kemudian mengutip hadis, “Semua amal ibadah manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu hanya untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan langsung membalasnya” (H.R. Muslim)
Tgk Alizar mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang tiga tingkatan puasa.
Pertama, shaumul umum atau puasa orang awam, yakni sekadar menahan lapar, haus, dan hal-hal yang membatalkan puasa secara fiqh.
Kedua, shaumul khushus (puasa orang khusus), yaitu puasa yang tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa.
Pada tingkatan ini, seseorang menjaga pandangan, lisan, pendengaran, tangan, kaki, serta menghindari makanan syubhat saat berbuka.
Imam Al-Ghazali menyebut ada enam penyempurna puasa di level ini, di antaranya menjaga pandangan dari hal tercela, memelihara lisan dari dusta dan ghibah, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, tidak berlebihan saat berbuka, serta menghadirkan rasa takut (khauf) dan harap (raja’) kepada Allah.
Ketiga, shaumul khushusil khushus, yakni puasa tingkat tertinggi.
Pada level ini, seseorang tidak hanya menjaga anggota badan, tetapi juga hatinya dari selain Allah, termasuk dari keraguan terhadap kekuasaan-Nya.
Tingkatan ini disebut sebagai puasanya para nabi, shiddiqin, dan muqarrabin.
“Upaya Imam Al-Ghazali mengklasifikasi orang berpuasa ke dalam tiga tingkatan itu tak lain tujuannya adalah agar kita yang setiap tahun berpuasa Ramadhan bisa menapaki tangga yang lebih tinggi dalam kualitas ibadah puasanya,” ujar Tgk Alizar.
Karena itu, apabila seseorang menginginkan puasanya sempurna dan mencapai tingkat tertinggi, maka hendaknya menyempurnakan puasanya dimulai dari tingkatan pertama dengan memelihara puasanya dari yang membatalkan puasa secara fiqh, Kemudian naik ke tingkatan kedua dengan menjaga dirinya.
“InsyaAllah dengan mengharap ridha Allah mudah-mudahan dianugerahkan oleh Allah mendapatkan puasa para nabi, shiddiqin dan muqarrabin. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Tiga Tingkatan Puasa, Tgk Alizar Usman: Puasa Membangun Ketakwaan dan Karakter, https://aceh.tribunnews.com/ramadan/1014500/tiga-tingkatan-puasa-tgk-alizar-usman-puasa-membangun-ketakwaan-dan-karakter.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi