Jangan Remehkan Dosa Kecil; “Bisa Jadi Dosa Besar Jika Karena Hal Ini “

Mayoritas ulama (jumhur ulama) menjelaskan bahwa dosa yang dilakukan manusia terbagi ke dalam dua jenis, dosa besar (al-kabā’ir) dan dosa kecil (ash-shaghā’ir).

Pembagian ini bukan tanpa dasar, sebab banyak dalil Al-Qur’an dan hadis Nabi yang menegaskan adanya perbedaan tingkat keparahan antara satu dosa dengan dosa lainnya.

Pembagian ini ditegaskan oleh banyak dalil Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW yang secara jelas membedakan tingkatan kemaksiatan. 

Dalam QS Al-Hujurat ayat 7 disebutkan “Allah menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan.”

Dalam ayat ini, Allah SWT membedakan antara tiga bentuk kemungkaran, yakni kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan, yang menandakan bahwa dosa memiliki tingkatan. 

Ulama besar, Zainuddin al-Malibariy, dalam kitab Fathul Mu’in menjelaskan sejumlah contoh dosa besar seperti membunuh, berzina, makan riba, durhaka kepada orang tua, menunda zakat dengan sengaja, hingga memutus silaturahmi.

Pendapat ini diperkuat oleh ulama tafsir al-Baariziy dalam al-Tahqiq, yang menjelaskan bahwa dosa besar adalah setiap dosa yang disertai ancaman, laknat, atau hukuman berat dalam Al-Qur’an dan Sunnah, atau memiliki dampak kerusakan besar terhadap agama dan masyarakat.

 

Wakil Rais ‘Am PWNU Aceh, Tgk Alizar Usman MHum, mengatakan bahwa definisi dosa besar dan dosa kecil sebagaimana dijelaskan para ulama masih perlu dikaji lebih mendalam.

“Definisi dan kriteria umum tentang dosa besar memang sudah dirumuskan para ulama klasik, namun untuk menentukan secara pasti mana yang termasuk dosa besar dan mana yang kecil, harus ditelusuri dari berbagai kitab secara spesifik,” jelas Tgk Alizar, Kamis (16/10/2025).

Ia menambahkan, salah satu karya monumental yang secara rinci membahas hal ini adalah kitab al-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir karya Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy.

“Dalam kitab tersebut, disebutkan sebanyak 467 jenis dosa besar lengkap dengan dalil-dalilnya,” katanya.

Namun, kata Tgk Alizar, para ulama menegaskan bahwa dosa kecil bisa berubah menjadi dosa besar dalam kondisi tertentu. 

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan beberapa sebab yang dapat menjadikan dosa kecil menjadi besar.

“Pertama, dosa kecil tersebut sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan terus menerus. Karena itu, satu dosa besar yang tidak didahului sebelumnya dengan dosa-dosa lainnya akan lebih memungkinkan diampuni dibandingkan dosa dosa kecil yang terus menerus dilakukan seseorang,” tegasnya.

Lalu yang kedua, jelas Tgk Alizar, dosa kecil bisa menjadi dosa besar jika seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut.

Ketiga, senang melakukan dosa kecil, gembira dan merasa bangga melakukannya.

“Keempat, meremehkan kehendak Allah SWT. Ia tidak menyadari penangguhan siksaan dari Allah SWT agar ia semakin bertambah dosanya dengan sebab penangguhan itu. Lalu yang kelima memamerkan suatu dosa. Ini termasuk tindakan aniaya terhadap diri sendiri,” jelasnya.

Kemudian yang keenam adalah dosa kecil tersebut dilakukan oleh seorang alim yang dia menjadi panutan bagi yang lain. 

“Dosa orang alim tidak mengikuti kematiannya, akan tetapi berterbangan di alam fana ini dalam waktu yang lama. Berbahagialah orang apabila meninggal dunia, maka dosa-dosanya itu ikut meninggalkan dunia bersamanya,” papar Tgk Alizar.

Dikatakan, para ulama mengingatkan bahwa baik dosa besar maupun kecil tetaplah bentuk kemaksiatan yang harus dijauhi. 

Dosa kecil yang dianggap ringan bisa menumpuk dan menghitamkan hati, sementara dosa besar bisa menghapus keberkahan hidup.

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Jangan Remehkan Dosa Kecil, Tgk Alizar Usman: Bisa Jadi Dosa Besar Jika Karena Hal Ini, https://aceh.tribunnews.com/tafakur/992299/jangan-remehkan-dosa-kecil-tgk-alizar-usman-bisa-jadi-dosa-besar-jika-karena-hal-ini.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim