Sabar dalam Menghadapi Musibah

Oleh: Tgk. Bustamam Usman, SH,I., MA

Ketua Komisi B MPU Kota Banda Aceh

Kehidupan manusia sebenarnya  penuh dengan permasalahan dan kemenangan dalam permasalahan, sangat tergantung pada sejauh mana tingkat kesabaran yang dimiliki seseorang dalam menghadapi permasalahan itu sendiri. Karena sabar merupakan jalan yang bisa membawa seseorang pada kemenangan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Jika dilihat dari berbagai ayat al-Qur’an maupun hadits, maka akan didapati bahwa kata “sabar” kerap kali diungkapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Namun kesemuanya tetap pada satu tujuan, yaitu kesuksesan dan kemenangan. Kata “sabar” artinya menahan diri dari sesuatu yang tidak berkenan di hati, ia juga berarti ketabahan. Imam al-Ghazali mendefinisikan sabar sebagai ketetapan hati melaksanakan tuntutan agama menghadapi rayuan nafsu.

Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, MA dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa, sabar artinya menahan diri dari sesuatu yang tidak berkenan di hati. Ia juga berarti ketabahan. Selain itu, ia menjelaskan bahwa kesabaran secara umum dibagi menjadi dua. Pertama, sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh seperti sabar dalam menunaikan ibadah haji yang menyebabkan keletihan. Termasuk pula, sabar dalam menerima cobaan jasmaniyah seperti penyakit, penganiayaan dan sebagainya. Kedua, sabar rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan semisal sabar dalam menahan marah, atau menahan nafsu seksual yang bukan pada tempatnya.

Sabar (al-shabru) menurut bahasa adalah menahan diri dari keluh kesah. Bersabar artinya berupaya sabar. Ada pula al-shibru dengan mengkasrah-kan shad artinya obat yang pahit, yakni sari pepohonan yang pahit. Menyabarkannya berarti menyuruhnya sabar. Bulan sabar, artinya bulan  puasa. Ada yang berpendapat, “Asal kalimat sabar adalah keras dan kuat.”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002: 766) musibah adalah kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa). Setiap manusia tidak akan terlepas dari segala ujian yang menimpa dirinya, baik musibah yang berhubungan dengan pribadinya sendiri, maupun musibah dan bencana yang menimpa pada sekelompok manusia maupun bangsa. Terhadap segala macam musibah maupun bencana yang berupa banjir, angin topan, kecelakaan serta gempa bumi yang membawa korban manusia maupun harta benda, itu semua sebagai ujian, yang harus dihadapi dengan ketabahan dan sabar. 

Berdasarkan keterangan tersebut, manusia disuruh senantiasa ingat kepada Allah, ingat akan kekuasaan Allah dan kehendak-Nya yang tidak ada seorangpun dan apapun yang dapat menghalangi-Nya. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini baik yang dianggap oleh manusia sebagai musibah dan bencana yang merugikan, ataupun yang dirasakan sebagai rahmat dan ni’mat yang menggembirakan, maka itu semua adalah dari Allah Swt, dan bukan kemauan manusia semata-mata (Rifai, 1982: 41). Cobaan hidup, baik fisik maupun non fisik, akan menimpa semua orang, baik berupa lapar, haus, sakit, rasa takut, kehilangan orang-orang yang dicintai, kerugian harta benda dan lain sebagainya. Cobaan seperti itu bersifat alami, manusiawi, oleh sebab itu tidak ada seorangpun yang dapat menghindar. Yang diperlukan adalah menerimanya dengan penuh kesabaran, seraya memulangkan segala sesuatunya kepada Allah Swt.

Sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, maka nama sabar berbeda-beda tergantung obyeknya. Pertama, sabar dalam taat kepada Allah Swt. Diperlukan kesabaran dalam beribadah, karena syaitan tak pernah berhenti menggoda hamba-Nya yang taat melaksanakan perintahperintah-Nya. Kedua, sabar dalam berdakwah. Luqman Hakim menasehati putranya agar tetap bersabar menerima cobaan ketika berdakwah. Sebagai aktivitas muslim, kita tahu bahwa harus tetap berusaha menyampaikan berita gembira dan peringatan (amar ma’ruf nahi munkar) kepada lingkungan sekitar. Contohnya seperti yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. harus menyadari, diingat-ingat dalam pikiran dan terus dihujamkan ke dalam jiwa, bahwa dakwah akan tetap terus berjalan mesti bersama atau pun tanpa diri kita. Ketiga, Ketabahan menghadapi musibah. Disebut sabar, kebalikannya adalah gelisah (jaza’) dan keluh kesah (hala’). Keempat, Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat disebut, mampu menahan diri (dlabith an nafs), kebalikannya adalah tidak tahanan (bathar). Kelima, Kesabaran dalam peperangan disebut pemberani, kebalikannya disebut pengecut. Keenam, Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya disebut pemarah (tazammur). Ketujuh, kesabaran dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut lapang dada, kebalikannya disebut sempit dadanya.  Kedelapan, Kesabaran dalam mendengar gossip disebut mampu menyembunyikan rahasia (katum). Kesembilan, kesabaran terhadap kemewahan disebut zuhud, kebalikannya disebut serakah, loba (al hirsh). Kesepuluh, kesabaran dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana’ah), kebalikannya disebut tamak, rakus (syarahun) (Mubarok, 2001: 73-74) dan,  Kesebelas, sabar dalam pergaulan. Dalam pergaulan adakalanya kita tersinggung ketika mendengar atau mendapatkan perlakukan yang kurang menyenangkan dari orang lain. Namun, sebagai Muslim kita diwajibkan untuk bersabar menghadapinya, karna boleh jadi hal itu ternyata akan mendatangkan banyak kebaikan bagi diri kita.

Al-Qur’an mengajak kaum muslimin agar menghiasi diri dengan kesabaran. Sebab, kesabaran mempunyai faedah yang besar dalam membina jiwa, memantapkan kepribadian, meningkatkan kekuatan manusia dalam menahan penderitaan, memperbaharui kekuatan manusia dalam menghadapi berbagai problem hidup, beban hidup, musibah, dan bencana, serta menggerakkan kesanggupannya untuk terus-menerus berjihad dalam rangka meninggikan kalimah Allah Swt. Allah berfirman: Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa. musibah, mereka mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Sebagaimana diketahui bersama bahwa, kesabaran terasa sulit dilakukan ketika seseorang dalam keadaan emosi karena akal tidak berfungsi saat seseorang itu dalam keadaan emosi. Maka hendaknya setiap permasalahan tidak dihadapi dengan emosi, namun dihadapi dengan akal yang sehat, karena perilaku sabar adalah perilaku orang yang berakal.

Beruntunglah manusia telah diberi oleh Allah sifat sabar, dengan kesabaran manusia akan mampu mencapai cita-citanya walaupun harus melewati halangan rintangan yang menghadang, bahkan semakin orang mau bersabar maka semakin dekat dirinya dengan yang Allah swt. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, orang yang sabar akan mampu menerima segala macam cobaan dan musibah dalam hidupnya.

Berbagai musibah dan coban yang melanda negara-negara di seluruh dunia saat ini, Indonesia umumnya dan Aceh khsususnya yang sedang dilanda pandemi Covid-19. Bagi orang yang sabar maka ia rela menerima kenyataan pahit dan tidak baik untuk dirinya, sementara yang menolak dan atau tidak sabar, ia gelisah dan protes dengan kehidupannya yang kurang baik sedang menimpanya saat ini. Semoga kita selalu menjadi orang-orang yang sabar dalam hidup. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

   Email: walidyazzuhra78@gmail.com